KELUARGA

HAK SUAMI ATAS ISTRINYA

Pernikahan merupakan Sunnatullah dalam setiap makhluq dan hampir setiap makhluq pasti melakukan hubungan perkawinan, tidak ada satupun yang ganjil baik dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hal ini sudah Allah tegaskan berdasarkan firmanya,

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kalian mengingat (kebesaran Allah).” (Adz Dzariyat: 49)

Pernikahan merupakan aturan Allah dan jalan yang terbaik untuk melestarikan kehidupan serta untuk memperoleh keturunan sehingga tatanan kehidupan bertahan, setelah masing-masing mengenal dan mengetahui tugas serta tanggung jawab dalam rumah tangga yang mulia sehingga mampu merealisasikan tujuan tersebut.

Apakah kita tahu apa saja hak suami atas istrinya? Atau sebaliknya apa hak istri atas suaminya? Terkait ini RAsulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Hak suami atas istrinya; ia tidak boleh meninggalkan tempat tidur suami, harus menerima dengan baik bagian yang diberikan suami, mentaati perintahnya, tidak keluar rumah kecuali atas izinnya, dan tidka memasukkan (orang) yang tidak disukai suaminya.” (HR. Thabrani dalam “Al-Ausathnya”. Pada silsilah perawinya terdapat Dhirar Bin Amr, ia termasuk dha’if )Majma’ Az-Zawaid, IV/314).

  1. Mentaati suami

  Istri harus mentaati semua perintah suami selama perintah itu salam hal-hal yang dibolehkan syariat. Sebaliknya, istri tidak boleh mentaatinya, bila perintah-perintah suami mengandung unsur maksiat kepada Allah. Sebab tidak ada ketaatan seseorang dalam rangka maksiat kepada Allah Sang Khaliq. Sebagaimana Sabda RAsulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

“Jika istri menunaikan shalat lima waktu, memelihara kemaluannya, dan taat pada suaminya, maka ia akan masuk syurga melalui pintu mana saj uang ia kehendaki.’ (HR. Ibnu Hibban: 4151)

Keikhlasan sang istri melawan tabiat dan ego kesombongannya untuk tujuan masuk syurga Rabnya. Dalam memenuhi hak-hak Allah yang sempurna, kemudian hak suaminya. insyaAllah akan mendapatkan pahala dari Allah berupa rasa cinta, kasih sayang serta kebahagiaan di dunia, serta balasan yang baik di akhirat kelat. benarlah , apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Waallam,

“Perempuan mana saja yang meninggal, sengan suaminya ridha padanya ia akan masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi: 1161)

  1. Istri hendaknya tidak meninggalkan tempat tidur suaminya.

Di antara tujuan nikah adalah tercapainya peyaluran biologis antara suami-istri. Ia merupakan sesuatu yang mendasar bagi makhluq Allah di muka bumi ini. Bahkan is juga merupakan hal sangat penting bagi jiwa manusia dalam rangka penyaluran potensi biologisnya. Dengan adanya istri, suami dapat terjaga dari rayuan setan, kebutuhan biologisnya terpenuhi, nafsu syahwatnta terkendali, penglihatan dan kemaluannya terjaga, jiwanya merasa nyaman dan senang bersama istri yang senantiasa di sampingnya, bahkan yang lebih semangat dan bisa terpacu ibadahnya dengan semua itu. Terdapat hadits-hadits shahih mengenai ha ini, di antaranya,

“Tidaklah istri yang menolak hajat biologis suaminya, ketika memintanya kemudian ia tidur dengan perasaan marah terhadap istrinya, melainkan para malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh tiba.” (H.R At-Thabrani dalam Al-Ausath)

Dalam riwayat lain juga Rasulullah bersabda,

“Apabila seorabg istri tidru meninggalkan ranjang suaminya, maka para malaikat akan melaknatinya hingga ia kembali menempatinya,” (H.R Bukhari: 5194 dan Muslim 1436)

  1. Istri tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suaminya.

Diriwayatkan ileh Mu’adz bin Jabal, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Tidak halal seorang istri mengisinkan (orang lain) memasuki rumahnya sedang suaminya membenci itu. Dan istri tidak boleh keluar rumah sedang suaminya tidak menyukainya.” (HR. Ahmad: III80,85 dan Abu Daud: 2459)

Ibnu Umar Radiayallahu Anhu. Juga meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Perempuan adalah aurat. Jika ia keluar dari rumahnya, setan mengikutinya, dan sesungguhnya ia tidak dapat lebih bertaqarrub kepada Allah kecuali di dalam rumahnya.” (H.R At-Thabrani dalam Al-Ausath)

  1. Memelihara harta suami dan Ridho atas rezeki dari Allah terhadapnya

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. bersabda, 

Sebaik-baik wanita ialah jika kau pandang, ia menyenangkanmu. Jika kau perintah, ia mentaatimu. Jika kau tinggalkan, ia menjagamu dalam hal harta dan menjaga dirinya.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i).

Selain memelihara harta suami istri hendaknya bersikap lapang dada dan menerima di saat rezeki mengalami penurunan atau kondisi hidup sulit. Dalam sebuah hadit disebutkan,

“Allah tidak melihat kepada istri yang tidak panai berterima kasih kepaa suami, padahal ia selalu bergantung membutuhkannya,” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 190)

  1. Istri melayani suami ketika di rumah

Istri yang mukminah hendaknya mengambil keteladanan dari kisah Fatimah binti Muhammad Shallalhu Alaihi Wasllam, (Sayyidah para wanita penghuni surga). Ia sendiri yang melayani suami, sehingga kulit telapak tangannya terkilir ketika menumbuk gandum. Ia memasaknya sendiri hingga menjadi roti. [Bukhari: 3113]

Telaan lain dicontohkan oleh istri dari bapak para nabi, Ibrahim Alaihi Assalam. Suatu ketik ia dayang pada istrinya dengan membawa sejumlah tamu dan anak sapi gemuk  agar dimasak. Benar ia kemudian memasak dan menghidangkan daging tersebut kepada tamu-tamunya. Mereka adalah para malaikat Allah Ar-Rahman, sehingga tidak memakannya. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Firman Allah pada surat Adz-Dzariyat: 24-27.

Yang sungguh menghernakan saat ini adalah, laki-laki yang menikahi perempuan kemudian ia mendapati istrinya hany bisa menyebut nama-nama restoran, bahkan memasak telur saja ia tidak bisa. Hal ini bukan berarti suami tidak dianjurkan membantu urusan istrinya, karena dalam sebuah hadist, ‘Aisyah berkata,

“Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membantu urusan (pekerjaan) istri kalian. Bila waktu shalat tiba, beliau bergegas menuju masjid.” (HR. Bukhari: 3113).

  1. Istri memelihara kebersihan dan berhias untuk suaminya

Terkait hal ini ‘Aisyah RadiyaAllahu Anha pernah berkata, “Hendaknya seorang suami menghias istrinya sebisa mungkin. Sebab ia akan lebih menarik syhawatnya, lebih enak dipandang mata, lebih memperlihatkan tempat-tempat hiasan wanita, serta lebih dapat melenggengkan cinta dan kasih sayang” 

Di samping itu ada wasiat baik dan bijak yang disampaikan Asma binti Kharijah, 

“Pelihara dan jagalah hidung, pendengaran, dan matanya. Jangan sampai mencium darimu kecuali bau terharum, jangan sampai mendengar sesuatu darimu kecuali kebaikan, dan jangan sampai melihat darimu kecuali kebaikan.

  1. Istri mendidik anak-anaknya

Nabi pernah memuji perempuan yang mengasuh anak-anaknya, belia bersabda,

“Sebaik-baik perempuan yang menunggang unta adalah perempuan-perempuan Quraisy yang shalih, yaitu yang paling sayang kepada anaknya di masa kecil, serta yang paling dapat menjaga harta benda suaminya.” (HR. Bukhari: 5082 dan Muslim 2527)

Dalalam hadista lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda,

“Istri adalah pemimpin di tangah keluarganya, dan akan diminta pertanggung jawaban akan hal itu.”

  1. Istri menjaga diri serta teguh memegang ummat

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’Ari Radhiyallahu Anhu, RAsulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Barangsiapa menjaga sesuatu yang ada di antara dua rahangnya (lidah) dan dua pahanya (kemaluan, ia masuk surga.”(HR. Ahmad: IV/398)

Diselesaikan; Depok, Kamis 07 Desember 2023

Oleh, Ust. Arfatul Hidayat, Lc. S.Ag

291 komentar pada “HAK SUAMI ATAS ISTRINYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *