KONTEN

BAGAIAMAN SAKRATUL MAUT?

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

  1. Kematian pasti datang

وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ

(Seketika itu) datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari. [Surah Qaf; 19]

  1. Manusia tidak punya kesempatan lagi [Surah Al-Qiyamah; 26-30]

كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ ٢٦

Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan,

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍۢ ٢٧

dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?”

وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلْفِرَاقُ ٢٨

Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ٢٩

dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan).

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمَسَاقُ ٣٠

Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring.

  1. Syaddad ibn Aus –radliyal-`Llahu ‘anhu– menggambarkan pedihnya sakratul-maut sebagai berikut:

اَلْمَوْتُ أَفْظعُ هَوْلٍ فِي الدُنيَا والآخِرَةِ عَلَى الْمُؤمِنِ ، وَهُوَ أَشَدُّ مِن نَشْرِ المَنَاشِيرِ وَقَرضٍ بِالمَقَارِيضِ وَغَليٍ فِي القُدُورِ ، وَلَو أَنَّ المَيِّتَ نُشِرَ فَأَخبَرَ أَهلَ الدُّنيَا بِالمَوتِ مَا انتَفَعُوا بِعَيشٍ وَلَا لَذُّوا بِنَومٍ .

“Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, atau panasnya air mendidih di dalam bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan kembali dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak akan nyenyak dalam tidurnya”. (Al-Maut libni Abid-Dunya, hlm. 69)

  1. Bahkan Rasulullah SAW. merasakan sakratul mau

عَن عَائِشَةَ  كَانَتْ تَقُول : إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ بيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ – أوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ، يَشُكُّ عُمَرُ – فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ في المَاءِ، فَيَمْسَحُ بهِما وجْهَهُ، ويقولُ: لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، إنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يقولُ: في الرَّفِيقِ الأعْلَى حتَّى قُبِضَ ومَالَتْ يَدُهُ.

Dari Aisyah RA, dia berkata, ”Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illallah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut (kepedihan)”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas” [HR Bukhari 6029].

  1. Saat Nyawa sudah sampai di kerongkongan [Surah Al-Waqi’ah; 83-84]

فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ ٨٣

Kalau begitu, mengapa (kamu) tidak (menahan nyawa) ketika telah sampai di kerongkongan,

وَأَنتُمْ حِينَئِذٍۢ تَنظُرُونَ ٨٤

padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat)?

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَـٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ ٨٥

Kami lebih dekat kepadanya (orang yang sedang sekarat) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.

  1. Rasulullah Menganjurkan untuk memperbanyak ingat kematian

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi)

  1. Banyak manusia lalai karena tidak tau hal Ghaib

عن أبي ذر رضي الله عنه مرفوعاً: «إني أرى ما لا ترون، أطَّتِ السماء وحُقَّ لها أن تَئِطَ، ما فيها موضع أربع أصابع إلا ومَلَكٌ واضع جبهته ساجدا لله تعالى، والله لو تعلمون ما أعلم، لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا، وما تلذذتم بالنساء على الفُرُشِ، ولخرجتم إلى الصُّعُداتِ تَجْأَرُون إلى الله تعالى [حسن] – [رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد]».

Dari Abu Żar -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Aku menyaksikan apa yang tidak kalian saksikan. Langit bergemuruh dan wajar saja ia bergemuruh. (Sebab) tidak ada tempat (seluas) empat jari pun di langit melainkan satu malaikat meletakkan keningnya bersujud kepada Allah -Ta’ālā-. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri di atas kasur, dan kalian pasti akan keluar menuju tanah-tanah lapang sambil memohon pertolongan kepada Allah -Ta’ālā- dengan suara keras.”

  1. Peringatan terhadap orang-orang yang lalai dari mengingat kematian

لَّقَدْ كُنتَ فِى غَفْلَةٍۢ مِّنْ هَـٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلْيَوْمَ حَدِيدٌۭ ٢٢

Sungguh, kamu dahulu benar-benar lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan penutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam. [Qaf; 22]

  1. Rasa sakitnya orang Dzholim  yang menghadapi Sakratul Maut

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌۭ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّـٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَـٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ ٩٣

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata, “Aku akan mendatangkan seperti yang diturunkan Allah.” Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. [Surah Al-An’am; 93]

  1. Gambaran orang baik dan orang buruk yang akan meninggal

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله ﷺ قال:تحضرهُ الملائكةُ فإذا كانَ الرجلُ الصالحُ قالوا اخرجِي أيّتُها النفسُ الطيّبةُ كانت في الجسدِ الطيّبِ اخرجي حميدةً وأبشري بروحٍ وريحانٍ وربٍّ غيرِ غضبانٍ فلا يزال يُقَالُ لها حتى تخرجَ فيُعْرَجُ بها حتى ينتهي بها إلى السماءِ فيُستفتحُ لها فيقالُ من هذا ؟ فيقالُ فلانُ ابن فلانٍ فيقال مَرْحَبا بالنفسِ الطيبةِ كانت في الجسدِ الطيبِ ادخلي حَمِيدَةً وأبْشِري بروحٍ وريحانٍ وربٍّ غيرِ غضبانٍ فلا يزالُ يقال لها فيقالُ لها ذلك حتى ينتهي بها إلى السماءِ التي فيها اللهُ عز وجلَ . وإذا كانَ الرجلُ السُّوءُ قال اخرجِي أيتها النفسُ الخبيثَةُ كانت في الجسدِ الخبيثِ اخرجي ذَميمةً وأبشِري بحميمٍ وغسّاقٍ وآخرُ من شَكْلهِ أزْواجٌ فلا يزالُ يقالُ لها ذلكَ حتى تخرجَ فينتهي بها إلى السماءِ فيقال من هذا ؟ فيقال فلانُ ابن فلانٍ فيقال لا مرحبا بالنفسِ الخبيثةِ كانت في الجسدِ الخبيثِ ارجعي ذميمةً فإنه لا تُفتحُ لك أبوابُ السماءِ فتُرْسَل إلى الأرضِ ثم تصير إلى القبرِ 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Para Malaikat akan mendatangi orang saleh yang akan meninggal dunia. Kemudian malaikat berkata: ‘Keluarlah wahai jiwa baik yang ada dalam jasad yang baik. Keluarlah wahai jiwa yang terpuji, bergembiralah wahai jiwa yang tenteram, karena bagimu nikmat serta keridhaan dari Allah’. Malaikat terus mengucapkan kata-kata itu sampai jiwa itu keluar dari jasad, lalu malaikat membawanya naik ke langit. Setelah sampai dibukakan pintu untuknya, dan para penjaga pintu bertanya: ‘Siapakah orang ini!’ Malaikat menjawab: ‘dia adalah Fulan bin Fulan’. Para penjaga pintu itu kemudian berkata: ‘Selamat datang wahai jiwa yang baik yang berada di dalam jasad yang baik. Masuk dan bergembiralah wahai jiwa yang diridhai’. Kata-kata itu terus terdengar hingga jiwa itu sampai di langit, tempat Allah berada. 

Dan apabila yang akan meninggal itu adalah orang yang buruk (banyak berbuat dosa), maka malaikat akan berkata padanya: ‘Keluarlah engkau wahai jiwa yang jahat yang berada di dalam jasad yang kotor. Keluarlah engkau wahai jiwa yang tercela, engkau akan dimasukan ke dalam neraka Jahim’. Dia terus mendengar kata-kata itu sampai jiwanya keluar dari jasadnya. Jiwa itu kemudian dibawa ke langit dan setelah dia sampai dibukakanlah pintu yang ada di sana. Para penjaga pintu berkata: ‘Siapakah orang ini?’ Malaikat menjawab: ‘Orang ini adalah Fulan ‘. Pintu itu lalu berkata: ‘Wahai jiwa jahat yang berada dalam jasad yang kotor, tidak ada ucapan selamat datang untukmu. Pergilah engkau wahai jiwa yang tercela, pintu-pintu langit tidak akan terbuka untukmu. Kemudian jiwa itu keluar dari langit dan akan berada di dalam kubur. 

  1. Malaikat mencabut nyawa sambil memukul wajah & Punggung

وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۙ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَـٰرَهُمْ وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ ٥٠ ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّـٰمٍۢ لِّلْعَبِيدِ ٥١

Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.”

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya,

  1. Gambaran manusia saat menghadapi kematian

إِنَّ العبدَ المؤْمن إذا كان في انْقِطَاعٍ من الدُّنْيَا، وإِقْبالٍ من الْآخِرَةِ، نزل إليه من السَّمَاءِ ملائكةٌ بِيضُ الوجُوهِ، كأَنَّ وجوهَهُمُ الشمسُ ، معهُمْ كفنٌ من أكْفَانِ الجنَّةِ، وحَنُوطٌ من حَنُوطِ الجَنَّةِ ، حتى يَجْلِسُوا منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ المَوْتِ حتى يَجلِسَ عندَ رأسِه فيَقولُ : أيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إلى مغْفِرةٍ من اللَّهِ ورِضْوَانٍ، فتخْرُجُ تَسِيلُ كما تسِيلُ القَطْرَةُ من فِي السِّقَاءِ ، فيَأْخذُها ، فإذا أخَذَها ، لم يَدَعُوها في يَدِه طَرْفَةَ عَيْنٍ، حتى يَأْخُذُوها فيَجْعَلُوهَا في ذلكَ الكَفَنِ وفي ذلكَ الحَنُوطِ ، فيَخْرُجُ منها كأَطيَبِ نَفْخَةِ مِسْكٍ، وُجِدَتْ على وجْهِ الأرضِ، فيَصْعَدُونَ بِها فلا يمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ، إلَّا قالُوا: ما هذا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فيقولُونَ : فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَحْسَنِ أسمائِه التي كانُوا يُسَمُّونَه بها في الدُّنْيَا – حتى ينْتَهُوا بها إلى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحون له فَيُفْتَحُ له ، فيُشَيِّعُهُ من كلِّ سماءٍ مُقَرَّبُوها إلى السماءِ التِي تلِيها ، حتى يُنتَهَي إلى السماءِ السابِعةِ ، فيقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : اكْتُبُوا كِتابَ عبدِي في علِّيِّينَ ، وأَعِيدُوا عَبدِي إلى الأرضِ ، فإِنِّي مِنها خَلَقتُهم ، وفِيها أُعِيدُهُم ، ومِنها أُخْرِجُهم تارةً أُخْرَى . فتُعادُ رُوحُه ، فيَأتِيهِ مَلَكانِ ، فيُجْلِسانِه ، فيَقولانِ له : مَن ربُّكَ ؟ فيقولُ : رَبِّيَ اللهُ ، فيَقولانِ له : ما دِينُكَ ؟ فيَقولُ : دِينِيَ الإِسلامُ ، فيَقولانِ له : ما هذا الرجلُ الذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فيَقولُ : هو رسولُ اللهِ ، فيَقولانِ له ومَا عِلْمُكَ ؟ فيَقولُ : قَرأتُ كِتابَ اللهِ فآمَنتُ به وصَدَّقْتُ ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ أنْ صَدَقَ عَبدِي ، فَأفْرِشُوه من الجنةِ ، وألْبِسُوهُ من الجنةِ ، وافْتَحُوا له بابًا إلى الجنةِ ، فيَأتِيهِ من رَوْحِها وطِيبِها ، ويُفسحُ له في قَبرِهِ مَدَّ بَصرِهِ ، ويَأتِيهِ رَجلٌ حَسَنُ الوَجهِ ، حَسنُ الثِّيابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فيَقولُ : أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هذا يَومُكَ الذي كُنتَ تُوعَدُ ، فيقولُ لهُ : مَن أنتَ ؟ فوجْهُكَ الوَجْهُ يَجِيءُ بِالخيرِ ، فيَقولُ : أنَا عَملُك الصالِحُ ، فيَقولُ : رَبِّ أقِمِ السَّاعَةَ ، رَبِّ أقِمِ الساعَةَ ، وإنَّ العبدَ الكافِرَ إذا كان في انقِطَاعٍ من الدنيا، وإقبالٍ من الآخِرةِ ، نزل إليه من السماءِ ملائكةٌ سُودُ الوجُوهِ معَهُمُ المُسُوحُ ، فيجلِسُونَ منه مَدَّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الموتِ حتى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: يَا أيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إلى سَخَطٍ من اللَّهِ وغَضَبٍ ، فَتَفْرُقُ في جَسَدِهِ فيَنتَزِعُهَا كَما يُنتَزَعُ السَّفُّودُ من الصُّوفِ المَبْلُولِ ، فيَأْخذَها ، فإذا أخذَها لَم يَدعُوها في يَدِهِ طَرْفَةَ عَينٍ حتى يَجْعَلُوهَا في تِلْكَ الْمُسُوحِ ، يخرجُ منها كأَنْتَنِ ريحِ جِيفَةٍ، وُجِدَتْ على ظَهْرِ الأَرضِ فيصْعَدُونَ بِها، فلا يَمُرُّونَ بها على مَلَكٍ من الملائِكَةِ إلَّا قَالُوا: ما هذا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فيَقُولُونَ: فُلَانُ بنُ فُلَانٍ بأَقْبَحِ أسْمَائِهِ التي كان يُسَمَّى بِهَا في الدُّنْيَا، حتى يَنْتَهِيَ بِهَا إلى سمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لهُ، فلا يُفْتَحُ لهُ، ثُمَّ قَرَأَ لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أبْوَابُ السَّمَاءِ قال : فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَه في سِجِّينٍ في الْأَرْضِ السُّفْلَى، قال : فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا، قال : فتُعَادُ رُوحُهُ في جَسَدِهِ، ويَأْتِيهِ ملَكَانِ فَيُجْلِسَانِه، فيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: ومَا دِينُكَ؟، فَيَقُولُ: هَاهَا لا أدْرِي فيَقُولانِ له : ما هذا الرَّجلُ الذي بُعِثَ فِيكُم ؟ فيَقولُ : هَاه هَاه لا أدْرِي ، فيُنادِي مُنادٍ من السماءِ : أنْ كَذَبَ عَبدِي ، فأفْرِشُوهُ من النارِ، وافْتَحُوا له بابًا إلى النَّارِ، قال : فَيَأْتِيهِ من حَرِّهَا وسَمُومِهَا، ويُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حتى تَخْتَلِفَ عَلَيْهِ أضْلَاعُهُ، ويَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، وقَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هذا يَوْمُكَ الذي كُنْتُ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أنا عَمَلُكَ الخَبِيثُ فيَقُولُ: ربِّ لا تُقِمِ السَّاعةَ

Artinya : kami keluar bersama Nabi mengantar jenazah seorang dari anshor. Maka kami pun sampai di pekuburan.(dan waktu itu) sedang dibuatkan liang lahat. Lalu Rosulullah duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya. (suasana tenang sekali) sehingga seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Dan ditangan beliau ada kayu yang beliau pukul-pukulkan ke tanah. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya mengatakan : berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur (dua atau tiga kali.

Kemudian beliau bersabda : sesungguhnya seorang hamba yang beriman, apabila dia berada di akhir kehidupan dunianya, dan hendak menuju akhirat (yakni saat sakaratul maut), maka turunlah kepadanya malaikat dari langit. Yang mana wajah mereka putih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Dan mereka membawa kafan dari kafan-kafan surga dan kapur barus dari kapur barus surga. Dan mereka duduk sejauh mata memandang darinya.Kemudian datanglah malaikat maut kepadanya. Lalu dia duduk di sisi kepalanya. Maka dia pun mengatakan : wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah dan juga keridhoan dariNya.

Beliau melanjutkan : maka mengalirlah (keluar) jiwanya seperti mengalirnya air dari tempat minum. Lalu malaikat maut pun mengambilnya. Tatkala dia mengambilnya, para malaikat yang sudah menantinya tidak membiarkan ada di tangannya sekejap matapun, sehingga mereka pun mengambilnya dan meletakannya di kafan dan kapur barus yang telah mereka siapkan. Dan keluarlah darinya bau harum seperti harumnya misik yang paling bagus yang ada di muka bumi.

Lalu beliau teruskan : maka mereka pun membawanya naik (ke langit). Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat, melainkan mereka (malaikat yang melihatnya) mengatakan: siapa ruh yang bagus ini? Mereka (yang membawanya) pun menjawab : fulan bin fulan yakni dengan namanya yang paling bagus yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Sehingga mereka pun sampai ke langit dunia. Lalu mereka pun minta agar dibukakan (pintu) untuknya. Maka dibukalah untuk mereka. Maka mengikutinya pula dari setiap langit para malaikat yang dekat hingga sampai ke langit yang setelahnya. Hingga akhirnya sampai ke langit yang ke tujuh. Lalu Allah subhanahu wata’ala berfirman : tulislah kitab (catatan amalan) hambaKu di ‘illiyyin dan kembalikanlah dia ke bumi. Sesungguhnya darinyalah Aku menciptakan mereka, dan padanyalah Aku mengembalikan mereka, serta darinyalah Aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain.

Beliau berkata : maka dikembalikanlah ruhnya pada jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya. Mereka berdua pun mengatakan : siapa Robbmu? Dia menjawab : Robbku adalah Allah. Lalu mereka bertanya lagi : apa agamamu? Agamaku adalah islam, jawabnya. Mereka kembali bertanya : siapa orang ini yang diutus pada kalian? Dia mengatakan : dia adalah Rosulullah. Dari mana kamu tahu? Tanya mereka. Dia pun menjelaskan: aku membaca kitabullah (Al Quran), lalu aku beriman dengannya dan aku membenarkannya. Setelah itu, menyerulah sebuah seruan di langit bahwasanya telah benar hambaKu, maka bentangkanlah untuknya (bentangan) dari surga, dan pakaikanlah (pakaian) dari surga, serta bukakanlah untuknya pintu menuju surga.

Bersabda beliau: maka datanglah kepadanya baunya dan kebagusannya, dan diluaskan untuknya di kuburannya sejauh mata memandang. Lalu datanglah kepadanya seorang yang bagus wajahnya, bagus bajunya, serta wangi baunya. Lantas dia pun berkata: bergembiralah dengan hal yang akan menyenangkanmu, ini adalah hari yang kamu dijanjikan dengannya. Dia (ruh) bertanya: siapa kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Dia (orang yang datang kepadanya) menjawab: saya adalah amalanmu yang sholih. Lalu dia (ruh) itu pun mengatakan: wahai Robbku tegakkanlah hari kiamat, hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.

Lalu beliau lanjutkan: dan seorang hamba yang kafir, apabila dia akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat (mendekati ajalnya), maka turun kepadanya malaikat yang hitam wajahnya dan bersama mereka kain yang kasar. Lalu mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, hingga dia duduk di sisi kepalanya. Dia pun berkata: wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dari Allah dan kemarahanNya.

Beliau mengatakan: maka (ruhnya) tercerai berai di dalam jasadnya. Lalu dia (malaikat maut) menariknya dengan kuat sebagaimana ditariknya besi yang bercabang dari kain wol yang basah. Akhirnya dia pun mengambilnya. Dan tatkala dia (malaikat maut) telah mengambilnya, maka mereka (para malaikat yang hitam wajahnya) tidak membiarkan ruh itu ada ditangannya sekejap mata pun, sehingga mereka menjadikannya di kain yang kasar itu. Dan keluarlah bau busuk seperti bau yang paling busuk yang ada di muka bumi. Lalu mereka pun membawanya naik ke langit. Dan tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat, melainkan mereka bertanya : siapa ruh yang busuk ini? Maka mereka (malaikat yang membawanya) menjawab: ruhnya fulan bin fulan yakni dengan menyebutkan namanya yang paling jelek yang dahulu dia dinamakan dengannya di dunia. Akhirnya mereka pun sampai di langit dunia. Lalu mereka meminta untuk dibukakan baginya pintu, namun tidak dibukakan untuknya.

Kemudian Rosulullah membaca firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya) : Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (Al A’rof : 40). Lalu Allah subhanahu wata’ala mengatakan: tulislah kitabnya (catatan amalannya) di sijjin di bumi yang paling bawah. Maka ruhnya pun dilempar dengan keras, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya) : Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seperti jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Al Hajj: 31).

Maka kembalilah ruhnya kedalam jasadnya. Dan datanglah dua malaikat, lalu mendudukannya. Mereka berdua mengatakan padanya: siapa Robbmu? Dia menjawab: hah hah, aku tidak tahu. Mereka bertanya lagi : apa agamamu? Hah hah aku tidak tahu, jawabnya. Mereka kembali bertanya padanya : siapa orang ini yang diutus kepada kalian? Maka dia pun mengatakan: hah hah, aku tidak tahu. Lalu menyerulah sebuah seruan dari langit : telah dusta dia, maka bentangkanlah baginya hamparan dari neraka, dan bukakanlah baginya pintu menuju neraka. Sehingga datanglah kepadanya panas darinya, dan juga racunnya. Dan disempitkan baginya kuburannya sehingga saling berhimpitan tulang-tulangnya.

Lalu datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya dan bajunya, serta busuk baunya. Dia mengatakan : bergembiralah dengan hal yang akan menyusahkanmu, ini adalah hari yang dulu engkau dijanjikan dengannya. Maka dia (ruh) bertanya: siapa kamu? Wajahmu seperti wajah orang yang datang dengan keburukan. Dia pun menjawab: aku adalah amalanmu yang buruk. Lalu dia (ruh) mengatakan : wahai Robbku, jangan engkau tegakkan hari kiamat. (HR. Ahmad no. 18557 dari Al Barro’ Bin ‘Azib)

  1. Hadits sahih riwayat Bukhari Abu Sa’id Al Khudri tentang perilaku mayit soleh dan pendosa di alam kubur

أَبَي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلاَّ الإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ.

Artinya: apabila jenazah telah diletakan, lalu dibawa oleh manusia diatas pundak-pundak mereka, maka apabila (jenazah itu) sholih dia berkata: bersegeralah kalian (mengantarkan aku), bersegeralah kalian (mengantarkan aku). Namun apabila (jenazah itu) tidak sholih, dia mengatakan: aduh celaka, kemana kalian akan pergi membawanya?. (hal ini) didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, kalau seandainya (manusia) mendengar, maka dia akan pingsan.

  1. Hadits shahih riwayat Bukhori dari Ibnu Abbas tentang Azab Kubur

مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا.

Artinya: Nabi pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: sesungguhnya keduanya benar-benar sedang diadzab. Dan keduanya tidaklah diadzab karena sesuatu yang besar (menurut mereka). Adapun salah satunya, (dia diadzab) karena dahulu dia tidak menutup diri ketika buang air kecil. Dan yang satunya lagi, (dia diadzab) karena dia dahulu senang namimah (mengadu domba). Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang basah. Lalu beliau membelahnya menjadi dua bagian. Beliau pun menancapkannya pada masing-masing kuburan. Para shahabat bertanya: wahai Rosulullah, untuk apa engkau melakukan hal ini? Beliau menjawab: mudah-mudahan (hal ini) bisa meringankan adzab keduanya selama (pelepah ini) belum kering.

6 komentar pada “BAGAIAMAN SAKRATUL MAUT?

  • Wow, superb weblog layout! How long have you been running a blog for?
    you make running a blog look easy. The overall look of
    your website is excellent, as smartly as the content!
    You can see similar here najlepszy sklep

    Balas
  • nazrojhot

    На сайте https://akvapark-fentazi.ru/ изучите важную и полезную информацию об аквапарке «Фэнтези». Вы находитесь непосредственно на официальном сайте. Это подходящее место, в котором сможет полноценно отдохнуть вся семья, а особенно дети. На стоянке вы сможете оставить автомобиль и насладиться временем, проведенным с семьей. При этом стоимость билета остается на доступном уровне. Каждый посетитель сможет воспользоваться СПА-зоной, поплавать в бассейне, полакомиться вкусными блюдами.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *