fbpx

Al Hidayah Tahfizh Center

Adab bagi Pengajar Al-Qur'an

Berniat Mengharap Ridha Allah Semata

                Pertama sekali yang seharusnya dilakukan oleh qari, ( orang orang yang belajar qiraah ) dan muqri’ ( orang yang mengajarkan qiraah ) adalah meniatkan aktivitasnya ini dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala.

Allah berfirman:

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menjalankan agama untuk-Nya semata, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Al-Bayyinah [98]: 5)

Diriwayatkan dari rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, dalam shahihain: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”

Hadits ini merupakan prinsip dari agama islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, ia berkata: “Seseorang itu akan menghafal sesuai dengan kadar niatnya.”

Dalam Riwayat lain: “Orang itu diberi sesuai denga napa yang diniatkan.”

Diriwayatkan dari Ustadz Abul Qasim Al-Qusyairi rahimahullah ia berkata: “ikhlas ialah meniatkan ketaatannya hanya untuk Allah Azza Wa jalla semata; maksudnya dengan ketaatannya tersebut ia hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala bukan karena mengharap hal lain dari respon makhluk, mengharap pujian orang, menyukai pujian dari manusia, atau yang semacamnya selain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.”

Ia berkata: “Bisa dikatakan: ikhlas ialah memurnikan perbuatan dari segala bentuk perhatian makhluk.”

Menurut Hazaifah Al-Mar’asyi Rahimahullah: “ikhlas adalah samanya perbuatan hamba antara yang tampak dengan tersembunyi.”

Menurut Dzun Nun Rahimahullah: Ada tiga tanda ikhlas: memosisikan pujian sebagaimana celaan, tidak mengingat-ingat amalan-amalan baik yang telah dikerjakan, dan mengharap balasan amalan-amalan tersebut diakhirat.”

Fudhail bin iyadh berkata: “meninggalkan sesuatu amalan karena manusia merupakan riya’ dan melakukan suatu amalan karena manusia merupakan syirik, sedangkan ikhlas adalah Allah menghindarkanmu dari keduanya.”

Sahl At-Tustari Rahimahullah berkata: “orang-orang bijak merenungkan penjelesan tentang ikhlas, dan mereka tidak mendapatkan kalimat yang tepat kecuali: “hendaknya gerak dan diamnya baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan didasari karena Allah semata, tidak tercampuri dengan maksud lain, baik itu hawa nafsu ataupun perkara-perkara keduniaan. “ 

As- Sariy Rahimahullah berkata: “ Janganlah sedikitpun kamu beramal karena manusia, menunggalkan suatu amalan karena manusia, menutupi sesuatu karena manusia, dan juga mengungkapkan sesuatu juga karena manusia.”

Tidak Mengharap Hasil Duniawi

                Hendaknya ia tidak meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara, baik berupa harta, jabatan, kedudukan yang tinggi, sanjungan manusia, atau semacamnya. Hendaknya seorang muqri’ tidak menodai bacaannya dengan niat mencari kemurahan hati yang akan ia peroleh dari orang yang diajarnya, baik itu berupa harta,pelayanan, atau dalam bentuk hadiah yang mana tak akan ia peroleh jika ia belum mengajarkan hafalan Al-Qur’an.

                Allah Ta’ala berfirman:

“Barang siapa menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), namun dia tidak akan mendapat bagian dari akhirat.” (Asy-Syura [42]:20)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radiaalla hu anhu ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan mengharap melihat wajah Allah Ta’ala, akan tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan salah satu kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium semerbak wangi surge pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)

Diriwayatkan dari Anas dari Hudzaifah dan Ka’ab bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang menuntut ilmu dengan maksud mendebat orang-orang bodoh, berbangga terhadap para ulama, atau mencari perhatian manusia maka hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik, ia berkata: “[Maksudnya] niscaya Allah memasukannya ke neraka.”)

Waspadai Sifat Sombong

                Hendaklah orang yang di hatinya ada sifat sombong berhati-hati, karena ada banyak orang yang belajar padanya dan silih berganti datang menemuinya. Waspadai juga timbulnya rasa tidak senang jika orang yang biasa belajra padanya belajar qiraah pad orang lain. Ini adalah ujian yang biasa menimpa para guru yang masih bodoh, yang mana hal ini menunjukkan bukti jelas keaadan niat dan batinnya buruk. Bahkan, hal ini merupakan bukti pasti tidak adanya niat untuk melihat wajah Allah ketika mengajarkannya. Jika ia memang ia meniatkan lillahi Ta’ala tak akan mumcul rasa tidak suka itu, sebaliknya ia katakana oada dirinya: yang aku inginkan adalah nilai ketaatan dengan mengajarkannya, dan aku telah melaksanakannya. Saat ini ia belajar pada orang lain untuk menambah ilmunya, dan itu tidak salah.

                Diriwayatkan dari Musnad Imam yang telah disepakati hafalan dan imamahnya, Abu Muhammad Ad-Darimi Rahimahullah, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu bahwa ia berkata: “Wahai para ulama amalkanlah ilmu kalian karena seorang ulama adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan amalannya sesuai dengan ilmunya. Kelak akan ada orang yang memiliki ilmu, namun ilmunya tidak melampaui tenggorokannya. Amalan mereka mulai menyelisihi ilmu yang telah didapat, perilaku yang sebenarnya tak lagi sama dengan keadaan batin mereka. Mereka berkumpul dalam halaqah hanya untuk saling berbangga dengan yang lainnya,  sampai seseorang memarahi temannya karena belajar kepada orang lain dan meninggalkannya. Amalan orang seperti itu hanya ada di majelis mereka tidak akan sampai kepada Allah.”

Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji

                Seorang guru seyogianya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntun oleh syariat. Sikap dan sifat yang terpuji lagi diridhai contohnya, seperti zuhud terhadap dunia dan hanya mengambil sedikit saja darinya, tidak ambil pusing terhadap dunia dan para penghulunya; dermawan lagi berakhlak mulia; menampakkan kegembiraan tanpa melampaui batas kesopanan, kebijaksanaan, dan kesabaran: besar hati terhadap rendahnya pendapatan dengan membiasakan sikap wara’, khusyu, tenang, rendah hati, serta tunduk. Tidak banyak tertawa dan bercanda. Membiasakan pengalaman syariat, seperti kebersihan dengan menghilangkan bau tak sedap, ataupun dengan tidak mengenakan pakaian yang dibenci syariat.

                Hendaknya menggunakan hadits-hadits yang ada sebagai pedoman dalam bertasbih, bertahlil, ataupun dalam mengamalkan doa dan dzikir lainnya. Hendaknya ia mempertahankan perasaan selalu diawasi oleh Allah baik dalam melakukan hal-hal yang tampak maupun tidak, juga memercayakan segala urusannya pada Allah Ta’ala.

Memperlakukan Murid dengan Baik

                Seorang guru seyogianya bersikap baik pad orang yang belajar padanya, menyambut ketika datang, dan bersikap baik padanya sesuai kondisi keduanya.

                Abu Harun Al-Abdi berkata: “Kami pernah mendatangi Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu anhu dan saat itu ia mengatakan: ‘Selamat datang wasiat Rasulullah SAW’”

                Sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda:

“Sungguh orang-orang yang mengikuti kalian. Sungguh akan datang kepada kalian orang-orang dari berbagai penjuru bumi untuk mendalami pemahaman tentang agama ini; jika mereka mendatangi kalian, perlakukanlah dengan baik.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, serta yang lainnya)

 Menasihati Murid

                Hendaknya seorang guru menasihati muridnya karena Rasulullah SAW bersabda:

“Agama itu nasihat.” Para sahabat bertanya: “Bagi siapa?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, bagi pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)

                salah satu wujud lillah dan likitabihi adalah menghormati penghafal Al-Qur’an dan orang yang mempelajarinya, membimbingnya menuju maslahat; membantunya belajar dengan sarana yang memungkinkan, menyenangkan hati orang yang sedang menuntut ilmu, lembut, dan hendaknya guru memiliki sikap toleran dalam mengajar dan memotivasi pelajar untuk belajar.

                Hendaknya guru mengingatkan keutamaan mempelajari Al-Qur’an agar ia bersemangat, tambah mencintainya, suhud terhadap dunia, tidak tergantung dan tertipu dengannya, mengingatkannya untuk menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syar’i, yang merupakan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang teguh dan hamba-hamba Allah yang arif bijaksana, yang merupakan golongan para nabi – shalawatullah wa salamuhu alaihim.

                Hendaknya guru menyayangi orang yang mempelajari Al-Qur’an dan memperhatikan maslahat-maslahat baginya, seakan memperhatikan kebaikan-kebaikan bagi dirinya sendiri dan kebaikan bagi anaknya. Memosisikan orang yang belajar sebagai anaknya dalam menyayangunya, memperhatikan maslahat-maslahat baginya, bersabar terhadap kenakalannya, keburukan perangainya, serta memaklumi sikap kurang ajarnya sesekali karena manusia rentan berbuat sala, terlebih lagi jika masih usia belia.

                Hendaknya guru mencintai kebaikan untuknya sebagaimana ia senang bila kebaikan itu terjadi padanya dan tidak menyukai keburukan menimpa muridnya sebagaimana ia juga tidak pernah senang bila keburukan itu menimpa dirinya.

                Dalam Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga ia senang bila saudaranya mendapatkan apa yang disukainya.”

Memperlakukan Murid dengan Rendah Hati

                Hendaknya tidak mengagungkan murid,  akan tetapi bersikap lembut dan rendah hati pada mereka. Telah banyak contoh tawadhuk yang terdapat pada kepribadian banyak orang. Lalu bagaimana terhadap mereka yang diposisikan sebagai anak-anak mereka, di sisi lain mereka adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an, yang juga memiliki hak persahabatan dan sering berkunjung padanya.

        Nabi SAW bersabda: “Bersikap lembutkah kepada muridmu dan kepada gurumu.”

Mendidik Murid Memiliki Adab Mulia

                Hendaknya guru mendidik murid dengan adab-adab mulia, secara bertahap. Mengajarinya untuk berperilaku yang diridhai, melatih dirinya melakukan amalan-amalan secara sembunyi-sembunyi, membiasakannya mempertahankan amalan-amalan yang tampak maupun tidak, memotivasinya agar ucapan dan perbuatan sehari-hari selalu disertai keikhlasan dan kejujuran, niat yang lurus, serta merasa selalu diawasi oeh Allah di setiap waktu. Hendaknya guru memberitahu murid bahwa dengan demikian akan terbuka baginya gerbang-gerbang pengetahuan, lapang dadanya, memancar dari hatinya mata air hikmah dan kelembutan, diberkati ilmu dan keadaannya serta dituntun perkataan dan perbuatannya oleh Allah.

Hukum Mengajar Fardhu Kifayah

                Mengajar hukumnya fardhu kifayah dan berubah menjadi fardhu ‘ain jika yang hanya bisa melakukannya hanya satu orang.  Jika di situ terdapat sekelompok orang yang mampu mengajar dan semua tidak mau melakukannya maka semua  berdosa. Akan tetapi jika sebagian dari mereka telah melakukannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Jika saat itu salah satu diantara mereka diminta mengajar dan ia menolak maka pendapat yang paling kuat: ia tidak berdosa, tetapi makruh hukumnya jika menolak tanpa alasan.

Bersemangat Mengajar

                Seorang guru diharapkan bersemangat dalam mengajar. Mengutamakan pekerjaan mengajar dari pada kepentingan duniawi yang tidak begitu mendesak. Hendaknya ia tidak menyibukkan hatinya dengan hal lain ketika tengah mengajar. Tak kenal lelah dalam memahamkan murid dan menjelaskan apa yang ingin mereka ketahui. Menyuruh mereka mengulang hafalan. Menyuruh mereka mengulang hafalan. Memuji murid yang unggul jika tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah seperti ujub; dan menegur yang masih kurang jika tidak dikhawatirkan timbulnya patah semangat, hasad terhadap yang lebih pandai, serta iri. Karena mengharap dicabutnya nikmat yang Allah karuniakan kepada temannya merupakan hal yang sangat diharamkan, bagaimana jika ini terjadi pada pelajar yang diposisikan sebagai anak yang keutamaanya juga akan diperoleh gurunya di akhirat dalm bentuk pahala yang banyak, juga di dunia berupa pujian yang baik.

Mendahukukan Giliran yang Lebih Dahulu Datang

                Jika murid banyak, hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang pertama kali datang dan seterusnya. Jika yang pertama rela didahului maka tidak mengapa ia mendahulukan yang lain.

                Hendaknya guru menunjukkan wajah yang ceria dan berseri-seri di hadapan mereka, memeriksa keadaan mereka, dan menanyakan perihal ketidakhadiran teman-teman mereka.

Niat Lillahi Ta’ala

                Para ulama berkata: “Jangan sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”

                Adapun Sufyan dan lainnya mengatakan: “Menuntut ilmunya seseorang itu sudah merupakan niat baik.”

                Ulama juga berkata: “Awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu enggan kecuali jika diniatkan karena-Nya.”

                Artinya: pada akhirnya niat tersebut akan berubah Karena Allah.

                Hendaknya ia menjaga kedua tangannya agar tidak melakukan hal sia-sia saat mengajar, menjaga kedua matanya dari melihat sesuatu yang tidak perlu, duduk dalm keadaan suci dan tenang, menghadap kiblat, serta hendaknya mengenakan baju yang berwarna putih bersih.

                Jika telah sampai di tempat duduk hendaknya ia melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk, baik ketika majelisnya diadakan di masjid atau di tempat lain. Jika diadakan di masjid maka lebih ditekankan lagi karena makruh baginya duduk sebelum melaksanakan shalat terlebih dahulu. Hendaknya pula ia duduk bersila jika mau atau duduk dengan model lain.

Tidak Merendahkan Ilmu

                Termasuk adab yang ditekankan dan harus diperhatikan adalah jangan sampai seorang guru menghinakan ilmu dengan pergi ke tempat sang murid. Misalnya, pelajar tersebut merupakan khalifah atau orang yang statusnya dibawah khalifah maka seorang guru tidak boleh mendatanginya untuk mengajarinya. Seorang guru harus menjaga ilmu tersebut dari hal semacam ini, sebagaimana yang dilakukan para salaf radhiallahu anhu dalam banyak kisah-kisah populer.

Memiliki Majelis yang Luas

                Hendaknya ia membuat majelis yang luas agar memungkinkan bagi pelajar untuk duduk dan bergabung, sebagaimana yang tercantum dalam hadits Nabi SAW:

                “Sebaik-baiknya majelis adalah yang paling luas.” (HR. Abu Daud dalam Sunan-nya, pada awal-awal bab “Adab” dengan sanad shahih dari riwayat Abu Sa’id Al-Khudri)

AdminATC

Tips Hidup Bahagia Dalam Islam

Tips Hidup Bahagia dalam Islam Semua manusia tentunya ingin memiliki kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Tapi ternyata tidak semua bisa mendapatkannya.

Read More »

- Artikel Lainnya -